Kelola Sistem IT Sendiri atau Bermitra? Memilih Pendekatan yang Tepat Bersama Digital Operations Partner
- 1 hari yang lalu
- 7 menit membaca

Digital Operations Partner dapat menjadi bagian dari cara organisasi menjaga nilai investasi digital ketika kebutuhan operasional terus berkembang. Setelah memahami bahwa implementasi hanyalah awal, nilai teknologi perlu dijaga melalui pengelolaan berkelanjutan, tools membutuhkan strategi, dan strategi membutuhkan expertise, muncul satu pertanyaan penting: bagaimana organisasi membangun kapabilitas tersebut secara berkelanjutan?
Jawabannya sangat bergantung pada kondisi masing-masing organisasi. Ada perusahaan yang memiliki skala, sumber daya, dan kebutuhan strategis yang mendukung pembangunan kapabilitas internal. Ada pula organisasi yang membutuhkan akses terhadap expertise operasional yang sudah tersedia agar kebutuhan dapat ditangani dengan lebih cepat.
Karena itu, keputusan membangun sendiri atau bermitra pada akhirnya merupakan pilihan model operasional yang disesuaikan dengan kebutuhan, sumber daya, dan kondisi organisasi.
Dari Tools dan Talent Menuju Pilihan Model Operasional
Empat artikel sebelumnya dalam rangkaian Enterprise IT Operations membangun satu alur yang saling berhubungan.
Implementasi teknologi menciptakan fondasi, tetapi Go Live belum menandai berakhirnya perjalanan. Setelah sistem digunakan, organisasi perlu menjaga agar solusi digital tetap relevan terhadap perubahan kebutuhan bisnis. Upaya tersebut membutuhkan pengelolaan operasional yang berkelanjutan.
Ketika lingkungan IT semakin kompleks, organisasi kemudian menambahkan berbagai tools untuk memperoleh visibilitas dan membantu proses pengelolaan. Namun semakin banyak tools juga menghasilkan semakin banyak konfigurasi, sinyal, proses, dan informasi yang perlu dikelola. Efisiensi akhirnya bergantung pada strategi pengelolaan yang jelas.
Strategi tersebut kemudian kembali pada kemampuan manusia yang menjalankannya. Metrics, logs, alert, dashboard, dan berbagai data operasional perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang memiliki konteks bisnis. Proses tersebut membutuhkan expertise yang relevan dan kapabilitas tim yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Di titik inilah organisasi menghadapi pilihan yang lebih konkret.
Kapabilitas tersebut dapat dibangun di dalam organisasi melalui rekrutmen, pengembangan kompetensi, dokumentasi, standardisasi proses, dan pembelajaran berkelanjutan. Organisasi juga dapat memperoleh dukungan dari pihak yang sudah memiliki expertise operasional untuk area yang membutuhkan kapasitas atau pengalaman tertentu.
Kedua pendekatan memiliki tempatnya masing-masing. Faktor yang menentukan adalah kesesuaiannya dengan kondisi operasional organisasi.
Membangun Kapabilitas Internal untuk Kendali dan Pengembangan Jangka Panjang
Membangun kapabilitas internal berarti organisasi menyiapkan kemampuan operasional sebagai bagian dari struktur dan cara kerja perusahaan sendiri.
Prosesnya dapat mencakup perekrutan talent dengan expertise yang sesuai, pengembangan kompetensi tim yang sudah ada, penyusunan SOP, dokumentasi knowledge, pembagian ownership, hingga pembentukan mekanisme evaluasi dan continuous improvement.
Pendekatan ini memberikan ruang bagi organisasi untuk mengembangkan pengetahuan yang sangat spesifik terhadap lingkungan bisnis dan teknologi yang mereka miliki. Tim internal dapat memahami hubungan antara sistem, proses bisnis, pengguna, serta prioritas organisasi melalui pengalaman operasional yang dibangun dari waktu ke waktu.
Dalam lingkungan tertentu, kedalaman pengetahuan tersebut menjadi faktor yang penting.
Misalnya, perusahaan memiliki lingkungan teknologi yang sangat spesifik dan terintegrasi erat dengan proses bisnis utama. Organisasi juga memiliki skala operasional yang cukup besar untuk mempertahankan tim dengan expertise yang dibutuhkan. Dalam kondisi seperti ini, investasi untuk membangun kapabilitas internal dapat memberikan fondasi jangka panjang yang kuat.
Model ini juga memungkinkan organisasi menentukan sendiri arah pengembangan capability sesuai prioritas bisnis. Pengetahuan yang terkumpul melalui pengalaman operasional dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari institutional knowledge.
Namun, pembangunan capability membutuhkan proses.
Merekrut talent yang tepat membutuhkan waktu. Pengembangan expertise juga berlangsung secara bertahap karena pengalaman operasional tidak seluruhnya dapat diperoleh melalui pelatihan formal. Organisasi perlu membangun knowledge base, proses kerja, mekanisme transfer pengetahuan, dan struktur ownership agar capability tersebut tidak bergantung pada individu tertentu.
Kebutuhan operasional juga terus berjalan selama proses pembangunan berlangsung. Karena itu, organisasi perlu memastikan bahwa kebutuhan sehari-hari tetap dapat ditangani sambil capability internal dikembangkan.
Bagi organisasi yang memiliki sumber daya, waktu, dan kebutuhan strategis yang mendukung pendekatan ini, membangun kapabilitas internal merupakan pilihan yang valid dan dapat menjadi investasi jangka panjang.
Bermitra untuk Mempercepat Akses terhadap Expertise Operasional
Ada kondisi ketika kebutuhan operasional berkembang lebih cepat daripada kemampuan organisasi membangun expertise secara internal.
Perusahaan mungkin sedang memperluas lingkungan digital, meningkatkan kompleksitas infrastrukturnya, atau menjalankan beberapa inisiatif transformasi secara bersamaan. Kebutuhan terhadap operational expertise sudah muncul, sementara proses rekrutmen dan pengembangan capability membutuhkan waktu.
Dalam situasi tersebut, organisasi dapat mempertimbangkan partnership dengan pihak yang sudah memiliki pengalaman dan expertise operasional yang relevan.
Keuntungan utama pendekatan ini terletak pada akses terhadap capability yang sudah tersedia. Organisasi dapat memperoleh dukungan pada area operasional tertentu tanpa harus menunggu seluruh proses pembangunan capability internal selesai.
Ruang lingkup partnership dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Organisasi dapat mempertahankan ownership atas keputusan strategis dan arsitektur, sementara aktivitas operasional tertentu dijalankan bersama partner sesuai pembagian tanggung jawab yang disepakati.
Contohnya, tim internal dapat tetap menentukan prioritas bisnis, kebijakan teknologi, dan arah pengembangan sistem. Partner kemudian mendukung aktivitas operasional yang membutuhkan execution dan expertise secara konsisten, seperti pengelolaan environment, maintenance, evaluasi konfigurasi, optimalisasi, atau proses operasional lain sesuai scope layanan.
Model seperti ini juga dapat membantu organisasi menghadapi kebutuhan yang bersifat berkelanjutan. Operasional digital tidak berhenti setelah satu proyek selesai, sehingga expertise yang dibutuhkan sering kali berkaitan dengan proses yang harus dijalankan secara konsisten dari waktu ke waktu.
Partnership memiliki konsekuensi yang perlu dipertimbangkan. Organisasi perlu menentukan scope dengan jelas, menetapkan ownership, memastikan mekanisme komunikasi berjalan baik, serta menjaga agar knowledge mengenai lingkungan operasional tetap dapat dipahami oleh tim internal.
Kualitas partnership juga sangat bergantung pada kesesuaian expertise partner dengan kebutuhan organisasi. Karena itu, keputusan bermitra memerlukan evaluasi yang sama seriusnya dengan keputusan membangun capability internal.
Menentukan Pendekatan Berdasarkan Kondisi Operasional Organisasi
Pendekatan yang paling sesuai akan bergantung pada kondisi dan kebutuhan operasional masing-masing organisasi. Keputusan build atau partner perlu mempertimbangkan beberapa kondisi yang secara langsung memengaruhi kemampuan organisasi menjalankan operasional secara berkelanjutan.
Skala operasional
Semakin besar dan kompleks lingkungan IT, semakin besar pula kebutuhan terhadap proses, ownership, dan expertise yang konsisten.
Organisasi dengan lingkungan yang relatif sederhana mungkin dapat menangani sebagian besar kebutuhan melalui tim internal yang ada. Lingkungan dengan banyak aplikasi, integrasi, infrastruktur, dan layanan digital membutuhkan struktur operasional yang lebih matang.
Skala juga memengaruhi economics of capability. Mempertahankan expertise tertentu secara internal perlu memiliki relevansi dengan tingkat kebutuhan yang ada.
Urgensi kebutuhan
Waktu menjadi pertimbangan ketika organisasi membutuhkan capability dalam waktu relatif singkat. Membangun tim membutuhkan proses rekrutmen, onboarding, pembelajaran, dan pengalaman. Jika kebutuhan operasional sudah berjalan saat proses tersebut dimulai, organisasi perlu menentukan bagaimana kebutuhan sementara maupun jangka menengah dapat ditangani.
Partnership dapat menjadi pilihan ketika akses terhadap expertise perlu tersedia lebih cepat. Sebaliknya, organisasi dengan waktu yang cukup untuk membangun capability dapat memilih investasi internal secara bertahap.
Ketersediaan talent
Ketersediaan talent di pasar juga memengaruhi keputusan.
Beberapa expertise memiliki tingkat spesialisasi yang tinggi dan tidak selalu mudah ditemukan. Organisasi perlu mempertimbangkan apakah talent yang dibutuhkan tersedia, bagaimana kapabilitas tim IT yang sudah ada dapat dikembangkan, dan berapa lama proses tersebut dapat dilakukan. Pertimbangannya mencakup kebutuhan saat ini sekaligus keberlanjutan capability dalam beberapa tahun ke depan.
Model kerja dan ownership
Organisasi juga perlu menentukan bagian mana yang harus tetap berada dalam kendali internal dan area mana yang dapat dijalankan bersama partner. Keputusan ini berkaitan dengan business criticality, kebutuhan knowledge internal, tingkat kontrol yang diinginkan, serta karakteristik aktivitas operasional.
Dengan mempertimbangkan keempat faktor tersebut, keputusan build atau partner dapat dibuat berdasarkan kondisi nyata organisasi. Model yang dipilih pun dapat berkembang seiring perubahan kebutuhan.
Managed Service sebagai Salah Satu Pendekatan Operational Execution
Salah satu bentuk partnership yang dapat dipertimbangkan organisasi adalah Managed Service. Dalam konteks Enterprise IT Operations, Managed Service dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan aktivitas operasional secara berkelanjutan sesuai scope yang disepakati. Fokusnya berada pada execution dan pengelolaan operasional, sehingga proses yang sudah dirancang organisasi dapat dijalankan secara konsisten.
Ruang lingkupnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan IT. Aktivitas dapat mencakup pengelolaan infrastruktur, sistem operasi dan database, lisensi tertentu, monitoring, incident response, maintenance, maupun optimalisasi operasional sesuai model layanan yang digunakan.
Peran tersebut dapat berjalan berdampingan dengan tim internal.
Tim internal tetap dapat memegang keputusan mengenai prioritas bisnis, arsitektur, kebijakan teknologi, dan arah pengembangan. Partner mendukung execution pada area yang menjadi scope operasional bersama.
Pembagian seperti ini memungkinkan organisasi membentuk model kerja yang lebih fleksibel. Sebagian capability dapat dibangun dan dipertahankan secara internal, sementara area tertentu memperoleh dukungan dari expertise eksternal.
Managed Service juga dapat menjadi bagian dari proses continuous improvement. Lingkungan IT berubah seiring bertambahnya aplikasi, meningkatnya volume transaksi, perubahan konfigurasi, dan perkembangan kebutuhan bisnis. Karena itu, aktivitas operasional membutuhkan evaluasi dan penyesuaian secara berkala agar tetap relevan.
Dalam praktiknya, keberhasilan Managed Service sangat bergantung pada kejelasan scope, ownership, service level, proses komunikasi, dan pemahaman terhadap konteks bisnis pelanggan. Model layanan yang baik perlu terhubung dengan tujuan operasional organisasi agar execution yang dilakukan tetap menghasilkan dampak yang diharapkan.
Dengan posisi tersebut, Managed Service merupakan salah satu pendekatan operasional yang dapat dipilih organisasi ketika membutuhkan dukungan capability secara berkelanjutan. Organisasi tetap memiliki ruang untuk mengombinasikannya dengan kapabilitas internal sesuai kebutuhan.
Memilih Digital Operations Partner yang Selaras dengan Kebutuhan Organisasi
Ketika organisasi memilih partnership, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menentukan partner yang tepat. Pertimbangan pertama adalah pemahaman terhadap konteks operasional. Partner perlu memahami lingkungan teknologi, proses bisnis, prioritas layanan, dan tujuan yang ingin dicapai organisasi. Pengelolaan operasional yang efektif membutuhkan pemahaman terhadap hubungan antara faktor-faktor tersebut.
Pertimbangan berikutnya adalah kemampuan menjalankan operational execution secara konsisten. Expertise perlu terlihat dalam proses kerja, dokumentasi, governance, escalation, maintenance, dan continuous improvement yang diterapkan dalam operasional sehari-hari.
Organisasi juga perlu melihat bagaimana partner bekerja bersama tim internal. Partnership yang sehat memiliki pembagian tanggung jawab yang jelas. Setiap pihak memahami area ownership, jalur komunikasi, proses pengambilan keputusan, serta mekanisme evaluasi kinerja.
Aspek lain yang penting adalah kemampuan berkembang bersama kebutuhan organisasi. Lingkungan IT enterprise jarang berada dalam kondisi yang sama untuk waktu yang panjang. Aplikasi bertambah, integrasi berkembang, infrastruktur berubah, dan prioritas bisnis dapat bergeser.
Karena itu, partner perlu mampu mengikuti perubahan tersebut melalui proses evaluasi dan improvement yang terstruktur. Perspektif ini membawa kita kembali pada keseluruhan perjalanan Enterprise IT Operations. Implementasi membangun fondasi. Pengelolaan menjaga nilai. Strategi membantu organisasi mengendalikan kompleksitas tools. Expertise membuat strategi tersebut dapat dijalankan. Setelah seluruh kebutuhan itu dipahami, organisasi memiliki beberapa jalur untuk membangun capability yang dibutuhkan.
Sebagian organisasi akan memilih membangun dan mengembangkan kapabilitas internal sebagai investasi jangka panjang. Sebagian lainnya akan mengombinasikannya dengan dukungan partner pada area tertentu. Ada pula organisasi yang memilih Managed Service untuk menjalankan sebagian aktivitas operasional secara berkelanjutan.
Pilihan tersebut dapat berkembang seiring perubahan kebutuhan organisasi. Yang terpenting adalah memastikan model yang digunakan mampu menjaga kualitas operasional dan nilai investasi teknologi dalam jangka panjang.
Jika organisasi Anda sedang mengevaluasi model pengelolaan yang paling sesuai, diskusikan kebutuhan operasional Anda bersama tim Lintas Media Danawa untuk melihat bagaimana pendekatan Managed Service dapat melengkapi kapabilitas internal. Anda juga dapat membaca kembali Artikel 01, Artikel 02, Artikel 03, dan Artikel 04 dalam rangkaian Enterprise IT Operations untuk melihat bagaimana setiap tahap membentuk kebutuhan tersebut.
Tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua organisasi. Keputusan yang baik adalah keputusan yang sesuai dengan skala operasional, urgensi kebutuhan, ketersediaan talent, tingkat kompleksitas, dan model ownership yang ingin dibangun.
Lintas Media Danawa memosisikan diri sebagai Digital Operations Partner yang membantu organisasi menjaga performa solusi digital, mengoptimalkan operasional, dan memastikan investasi teknologi terus memberikan dampak bisnis yang nyata sepanjang siklus hidupnya.
Pada akhirnya, membangun capability sendiri maupun bermitra merupakan dua cara untuk mencapai tujuan yang sama: memastikan teknologi yang telah diinvestasikan terus mampu mendukung bisnis ketika kebutuhan organisasi berkembang.
Tentang Lintas Media Danawa
Lintas Media Danawa membantu organisasi menjaga kualitas operasional IT melalui pendekatan Digital Operations yang berfokus pada pengelolaan berkelanjutan. Managed Service menjadi salah satu pendekatan operasional yang dapat melengkapi kapabilitas internal, sementara kebutuhan setiap organisasi tetap menjadi dasar dalam menentukan model pengelolaan yang paling sesuai.






